Melihat kondisi pasar global yang sedang morat-marit saat ini hingga juga merembet ke pasar Indonesia menimbulkan banyak tanda tanya besar bagi masyarakat pada umumnya dan investor pada khususnya, dengan tingkat kekhawatiran yang tentu berbeda-beda…
Masayarakat awam yang tidak terlibat langsung dalam aktivitas perdagangan saham dalam arti tidak berinvestasi di saham mungkin akan melihat fenomena ini sebagai suatu ancaman terhadap inflasi yang semakin tinggi yang berimbas kepada kenaikan harga-harga bahan baku yang semakin tajam..
Di sisi lain para investor sebagai pelaku utama yang terlibat langsung dalam aktivitas pasar saham mungkin sudah mengamati sejak lama gerak-gerik dan pergerakan pasar saham yang cenderung menurun satu tahun belakangan ini… berbagai strategi sudah dijalankan berdasarkan dengan keyakinan masing-masing investor terhadap kondisi pasar saham kedepannya.. Ada yang tetap tenang tidak menarik modalnya sambil melihat kondisi pasar (‘wait and see’), ada yang panik dengan mulai menarik sebagian besar atau bahkan keseluruhan modalnya (‘cut loss’), atau bagi mereka yang tetap berpandangan optimis akan tetap disiplin dalam berinvestasi dan melihat fenomena ini sebagai sebuah kesempatan untuk membeli saham dalam pada harga murah (‘buy at low cost, averaging down’) ..
Apapun keputusan dan strategi yang dijalankan, terlepas dari siapakah yang berinvestasi, baik dari investor kecil ataupun kelas kakap sekalipun, sampai masyarakat awam sekalipun.. semuanya tidak akan terlepas dari berbagai pertanyaan-pertanyaan gaib (‘one million dollar question’) seputar kejatuhan pasar saham saat ini.. “Sampai kapan bursa saham akan jatuh?” , “Kapan Pasar akan sampai pada titik terendahnya?”, “Apakah yang harus saya lakukan?” , “Apakah ini saat yang tepat untuk beli saham? atau justru cut loss harus dilakukan sesegera mungkin?” -to be continued…-
Pada kenyataannya pasar sudah terkoreksi cukup dalam saat ini, dan tidak ada yang bisa meramalkan secara pasti akan kemana arah pergerakan pasar saat ini.. Dari 10 analisis yang melakukan analisanya terhadap pasar 3 Bulan yang lalu, bisa dikatakan tidak ada satupun dari mereka yang benar.. Tidak ada yang memperkirakan kejatuhan pasar saham global bisa sampai sedalam ini…
Berbagai usaha telah dilakukan dari kerjasama pemerintah dengan bank sentral dalam rangka menenangkan investor, pengucuran dana besar-besaran dalam rangka melindungi perusahaan dari kebangkrutan, pelarangan peraturan short selling, pemagkasan tingkat suku bunga, kebijaksanaan buy back saham-saham milik BUMN, dan yang terakhir adalah peningkatan penjaminan deposito oleh pemerintah menjadi Rp. 2 M..
Walaupun indeks harga saham gabungan sudah menunjukkan adanya indikasi rebound atau kenaikan kembali, namun masih banyak investor yang menilai masih terlalu dini untuk menilai apakah pasar sudah benar2 rebound atau hanya efek jangka pendek, nyatanya kondisi saat ini dinilai masih sangat fluktuatif…
Lalu apakah yang harus dilakukan dalam kondisi saat ini..? Sebagian kalangan menilai bahwa melakukan penarikan investasi dan menyimpan modal dalam bentuk uang cash adalah cara yang paling aman
-Joe-

haha , kayak taktik gw , averaging down, tp kebanyakan investor sekarang pelurunya dah abis jo, mo averaging down pake apa , cut loss jg dah terlalu dalam , maka siapa seh yg paling diuntungkan dengan situasi ini sebenarnya ??
—-> to be continued ( nantikan di koment saya berikutnya )